Berkali-kali aku hapus dan ketik,
Kata-kata normal yang diterima agar tidak ditertawakan sosial.
Aku ketik semua kenormalan kehidupanku, yang ada hanya satu aku berpura-pura
Jiwa angkuh yang padahal rapuh
Mati berdiri jika kujalani hidup mencari strata dunia
hiperbola cantik kurangkai, setidaknya orang akan berkata indah karenanya
seakan pujangga yang mendadak menjadi motivator yang padahal kuenggan
Ya, demi menyamakan dengan dunia
Apalah artinya diri sendiri, dia pergi menghilang
Aku ingin pergi ke dunia, dimana menjadi diri yang sebenarnya
Tetapi ternyata yang menjauh adalah pandanganku
Entah, siapa yang sala
Aku paling tidak mau yang dipersalahkan karena ini cita-citaku
Mari kita mati bersama wahai diriku dan kepalsuan
Aku nyaman, walaupun itu salah
Rugi adalah resiko
Untung itu yang kucari
Munafik untuk sebuah ketulusan yang kuinginkan
Dan akhirnya sebuah keindahan yang kubuat menjadi imitasi belaka
-diri dengan hati yang menghilang
Rabu, 14 Maret 2012
Hey Omnilova, bebas dari streotype mari kita ngeblog :)
"BLOG itu kebebasan dari stereotype 'tidak sama dengan' kehidupan nyata (lingkaran setan kehidupan)" - @chepsha
Dan akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya . Terserah. I need blog, daripada follower twitter gue meng-unfollow gue. It works to make me hurted. LOL. Mungkin akan saya unfollow duluan karena terlalu sadis dalam kesejahteraan moral diri.
Entah karena akses internet susah untuk saya. Mungkin lebih baik menuliskannya. Sudah banyak tulisannya, tapi ini titik kesadaran yang paling kuat untuk bisa lebih mencari celah apa itu arti dari galau, labil dalam diri. Karena setiap manusia memiliki batas dan kadar-nya masing-masing. Ini hal yang relative tetapi bisa menjadi sesuatu yag mutlak ketika itu menjadi suatu kegelisahan lingkungan sekitar. Inti dari semua kata-kata yang secara absurd tidak bisa menjelaskan adalah kebutuhan untuk mencari jati diri.
Sebelumnya perkenalan adalah hal yang lebih baik. Jika saya mendeskripsikan diri saya akan menjadi sebuah buku tersendiri yang melebihi kitab agama-agama yang dipegang oleh para priyayi. Maka dari biarkanlah kita jelaskan secara berjalan siapa dan bagaimana saya menurut yang meilihat, dan beri tahu saya.
Sekarang saya akan membagikan penagakuan. Saya remaja akhir yang menginjak kedewasaan, dalam hal ini masih belum menerima secara utuh jika umur kronologis yang telah tinggi (red: jadi nambah tua). Saya wanita normal, menyukai pria, tetapi saya hampir tidak percaya itu cinta (tadinya), hampir dan kemungkinan besar menuju tidak.
Saya percaya kasih sayang Tuhan yang tiada tara, bahkan dihitungpun otak kita terbatas untuk melakukannya. Saya percaya adanya cinta yang datang dari kedua adik saya, Almarhum mama saya, sedikit dari Papa saya (dan sering masih diragukan), dan segelintir sahabat yang mengerti saya mulai dari awal remaja sampai sekarang. Saya percaya kasih sayang datang untuk semua sahabat saya yang berpasangan, ibu hamil yang bergandengan tangan dengan suaminya, kakek nenek yang sedang berjalan sore, maupun tamparan tengah malam dari pelanggan untun simpanannya. Itulah rasa cinta, tetapi saya masih belum pernah merasakan. Hampir dan masih kata hampir. Jika hanya salah satu merasakannya, itu bukan cinta, itu keposesifan untuk member tahu, menasihi, tetapi sau sisi lain tidak peduli bahkan tidak suka. Itu bisa menjadi dosa tersendiri karena kita telah mengganggu ciptaan tuhan dengan kebaikan yang kita berikan.
Jahat sekai memang kata-kata saya terhadap apa yang kalian sebut cinta. Saya sayang dengan keluarga saya, saya rela melakukan apapun untuk mereka, tapi itu kewajiban, saya akui. Saya memang jiwa apatis yang munafik dengan topeng keramahan dan karifan tiada tara. Sayalah manusia paling ditakutkan manusia-manusia, MUKA DUA. Saya tidak merugikan karena kebaikan yang saya berikan tulus walaupun saya benci sekalipun, tetapi saya tetap benci, dan itu kejahatannya. Balik ke permasalahan utama, mengapa saya apatis, karena pranata sosial itu sebenernya kejam. Kalian menganggap orang yang perawan tua itu menyedihkan, sendirian, kasian, dan tidak laku. Tetapi bukankah mereka hanya tidak menemukan apa yang mereka ekspektasikan? Mereka manusia normal yang memiliki ekspektasi yang tidak didukung realitas yang sama.
Tetapi, karena saya munafik dasarnya, sehingga saya ercaya masih ada cinta untuk saya, selain dari tuhan kewajiban cinta saya untuk keluarga dan orang yang mengasihi saya, yaitu apalah nanti yang saya sebut (paangan).
Tetapi, karena saya munafik dasarnya, sehingga saya ercaya masih ada cinta untuk saya, selain dari tuhan kewajiban cinta saya untuk keluarga dan orang yang mengasihi saya, yaitu apalah nanti yang saya sebut (paangan).
Dan apapun yang kalian lakukan, lakukanlah, seperti lagu MOCCA, do what you wanna do, say what you wanna say. But it’s just about how to go out from the box of live, stereotype. Yup, dunia memang kejam bung, tapi cinta yang akan menetralisir semua keadaannya. *asedap* Itulah mengapa saya ingin mengekspresikan diri saya dengan blog dan inilah cinta dan kehajatan saya untuk dunia.
Saya mengatakan saya omnilova: pecinta segala. :p
Regrads,
Para pecinta segala *omnilova*
Kamis, 26 Januari 2012
If you were him... always if ..
Dan selalu dimulai dengan segala pengandaian, seharusnya aku bermimpi ke depan bukan melihat selalu ke belakang. What's going on? I feel so closed to you right now
Minimal semua kendali untu sementara ada di tanganku. Temporrarilly. Aku melakukan di luar jalan yang pernah aku lakukan. Untuk liburan kali ini aku hanya ingin meninggalkan hal yang membuatku merasa sangat jengah. Dan untuk itu aku tinggalkan..
- Untuk sekian kalinya, keluargaku membuatku tidak bisa berpkir jernih. Dan ini selalu membuatku malu kepada Tuhan, mengapa aku terlalu bodoh? Cinta itu sebenernya terbuat dari apa? Apa uang yang diberikan setiap bulan bisa mengukur cintanya keluarga kita terhadap perantau? Apakah telpon rutin bisa mengukur perhatian mereka? Aku hanya bisa percaya bahwa rasa sayang mereka dicurahkan dengan memberikan kepercayaan, dan tanggung jawab
- Selalu bermasalah dengan organisasi, teman yang gak fit with my heart, do they hurt me? a lil bit. Dan ga mungkin juga ku aku harus menjauh. Unsos itu gak bener dan hanya lari dari masalah. Gotten kidding me. Take a breath, I'll take the possitive things that i get.
- You, just a lil past, tapi yang paling bisa mengacaukan. Kamu tahu, kamu yang membuat aku lupa dengan segala masalah keluarga yang bisa bikin gak nafas, bisa bikin senyum ketika ujian besok bikin pengen gigit kursi, dan bikin ga tidur, bukan karena ga bisa jawab soal ujian, tapi karena ...... you know
Yang penting untuk 3 minggu ini aku melakukan yang ga pernah aku lakukan, tanpa menghabiskan waktu galau dengan susu jahe anget di angkringan, hampir ga pernah sms orang untuk sekedar buang waktu dan main, gak harus langsung pergi ke sana-sini. It's peacefull.
Tahu satu hal, karena Bali Work Placement, sampe ngira anak-anak remaja bali ngomong together with me ternyata bahasa bali lah, ibu-ibu ama nenek yang di homestay aku denger lagi english conversation, padahal itu balinesse. Ini pasti karena aku udah gabisa bedainmana bahasa bali yang nggak ngerti, ama bahasa english yang gak indonesia banget... Okke, itu pengalamannya kan? Ini baru 4 hari, how about 3 weeks? aku pasti mabok.
Apapun itu, aku sedang berusaha untuk tidak merusak otakku lagi. Jangan berpikir lagi untuk kamu yang berkemnungkinan untuk balik, kita udah punya jalan yang terlalu beda. Take care :)))
Apapun yang kamu pikirkan itu menjadi sedang tidak penting,
xoxo Roo
Langganan:
Postingan (Atom)


