YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Senin, 24 Maret 2014

Manusia berubah, aisyah masih saja,,,

Semua orang punya masalahnya, tapi bagaimana menyikapinya itu tergantung keadaan dan kondisinya.-kata orang sih gitu yaa

Tuhan bolehkah aku bertanya sekali lagi? Jika memang dia bukan yang terbaik untukku adakah perpisahan senyuman terakhir kalinya? senyum terakhirnya hanya kuperhatikan dulu, ketika mata kami saling tuju.

Ini semua terjadi memang karena diriku yang tidak bisa mengontrol diri, masih labil dan penuh dengan pemikiran tanpa pelaksanaan. Saya dibilang terlalu naif dalam menghadapi dunia, manusia yang seharusnya punah di dunia menuju dengan keberagaman tindak kemunafikkan. Apakah aku salah mempertahankan diri bertujuan kebaikan? Haruskan mengambil perubahan yang menjadi sebuah keserakahan berpikir karena tidak memikirkan yang lain?

Tuhan, maaf sampai sekarang aku hanya bisa terdiam. Hanya menikmati dunia yang menjadi hujan dan badai, berlari di bawah kecerahan awan, menysukuri cuaca mendung dengan kawan. Apakah menjadi dewasa sebegitu sulit Tuhan?

Tuhan, bantulah dunia menjadi satu untuk duniaku, pilihkan satu dengan jalanmu. Aku sangat bersyukur diberikan segala kesempatan berbeda untuk mengenal dunia. Tetapi kenapa semakin bingung dalam memilih tujuan?

Dunia indah Tuhan. Bahagia bisa selalu bersama senyum dan malang, mengindahi tangisan dan merenungkan tawa di tengah kelam. Tetapi, bagian apa yang menjadi jalanku? Aku hanya ingin berjalan, bukan stagnant dan menjadi tumbuhan yang mati diinjak di samping trotoar.

Semua baik padaku dengan caranya. Syukur dan nikmat-Mu selalu kusanjungkan. Tetapi yang mana yang paling kau berikan? Kenapa selalu dia menjadi penghalang segala kebaikan? Apakah hati ini terbuat dari baja yang Kau berikan? Aku ingin menjadi roda yang berputar membantu sang kendaraan. Bukannya hidup dalam pemberhentian.

Kalau aku pergi sementara dari sini, apakah ini arti dari segala kehancuran? Aku hanya ingin menyelesaikan dengan cara yang membuat senyum terkembang. Duniaku hanya bagaimana senyum tetap berada disepanjang jalan.

Jujur, aku takut Tuhan. Mereka bilang aku terlalu bayi untuk bisa menghadapi dunia. Kenapa indah matahari tak pernah menyinari hati yang duka? Kenapa kedukaan mereka harus dicampuradukkan menjadi cambuk ketakutan yang akan kuhadapi kelak? Apakah keadaanku akan sama seperti mereka Tuhan? Mereka meraskan pahit di awal, aku terlambat untuk merasakan dan baru akan belajar.

Aku hanya minta yang terbaik, pilihkanlah jalan, persempitlah hambatan, kepada-Mu aku meminta dan memohon pertolongan. Bersamamu aku paling membagi kebahagiaan. Aku hanya bisa berjanji, semoga jalan konvensional yang selalu ditertawakan akan berjalan, karena ini perintahmu yang paling tak terelakkan untuk disangsikan.

Satu lagi hal, salamkan kepadanya aku rindu padanya Tuhan. Cuma itu permohonan perpisahan untuknya, karena entah apa yang terjadi ke depan, tapi ini akan terlalu mustahil untuk dilanjutkan sendirian. Berikanlah jalan kesuksesan dan kebahagiaan untuknya Tuhan. Aku akan lebih gampang merelakannya dengan melihat senyuman. Aku ingin lebih hidup ke depan, dan permudahkanlah kehidupannya juga untuk ke depan. Waktu akan bergulir seperti halnya dengan masa lalu yang tak penah mengalir.

Kepadamu aku berlindung, dan mengingatmu terus dengan kebahagiaan walaupun dalam rintihan. Terima kasih Tuhan

-Roo, sedang merajalela.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar