YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Senin, 07 April 2014

Fiksi 1 : Secangkir Kehidupan dalam Kopi Part 1

Puntung kelima sudah menemani sesorang perempuan mungil yag berkutat serius dengan laptopnya. Seperti menunggu seseorang yang akan datang. Tetapi sosok di sebrangnya diam diam sudah memperhatikan sejak dari awal dia datang, dua jam bukannya waktu yang menentukan bahwa tidak ada yang akan datang menemaninya. Perempuan itu tampak tenang, tetapi entah kenapa lelaki berkacamata ini merasakan kegusaran secara tidak langsung dari sudut perempuan kecil ini.




"Mbak, ini kopi torajanya, silahkan. Ini boleh saya angkat?", dengan anggukan perempuan ini menjawab, dan pelayan kedai membersihkan gelas dan planjer kotor yang sudah sejak tadi kosong di mejanya.

Lelaki itu yang memperhatikan dengan bingung karena setengah bungkus rokok, dua planjer kopi yang berbeda telah habis ditandas seorang perempuan yang bahkan terlihat menikmati kegemaran seperti para kakek-kakek yang menikmati sore.

Sesekali perempuan yang menggunakan topi kabaret hitamnya bersenandung mengikuti lagu yang megalun dari kedai kopi ini. Sangat menikmati kesendiriannya, dan entah kenapa lelaki ini senang berlama-lama dengan tingkah sederhana perempuan ini. Walaupun mata lelaki ini tidak selalu mengarah ke perempuan ini, agar tidak terlalu kentara dengan perempuan ini.

Seketika perempuan ini tiba-tiba menegang, mukanya menunduk dan menggunakan kacamata hitamnya kembali. Tidak aneh memang, dia memang mengambil tempat dimana sinar matahari mengarah ke arahnya, dan tempatnya cukup di sudut yang tidak banyak orang mengetahuinya. Tetapi, sudah dua jam dia cukup nyaman di sana, mengapa baru memakai kaca matanya?

"Dan dia menggunakan jaketnya? Apa itu tidak panas, cuaca sedang sangat terik di sore hari cerah ini ?", pikir lelaki yang menggunakan kaos polo shirt biru tuanya. Kemudian, lelaki itu kembali berkutat dengan desain yang ada di hadapannya kembali.

"Sayang, kamu cuma pesen roti ama kopi aja?", dua orang yang mencolok layaknya sepasang kekasih mengambil tempat di belakang lelaki tersebut. Suara perempuan yang sepertinya tampak seumuran dengannya tersebut agaknya memecahkan keheningan kedai kopi yang sedari tadi tenang.

Lelaki tersebut menoleh ke arah pasangan ini, dan kemudian kembali menoleh ke perempuan mungil yang tampaknya semakin menegang. Sepertinya perempuan ini mengenal baik pasangan di belakangnya dengan tingkah yang semakin berbeda dengan ketenangan yang sedari tadi perempuan itu tampilkan.

Tidak lama, perempuan yang menggunakan dress abu-abu dengan sneakernya pergi meninggalkan tempat duduk yang sedari tadi menjadi sinnggasananya. Dengan terburu-buru membawa semua bawaan yang banyaknya, tiba-tiba dia jatuh dan tersandung dengan meja di depannya ketika berjalan.

"Ay?", seru lelaki yang tangannya dirangkul dengan aman oleh kekasinya tersebut ketika perempuan ini tidak sengaja menjatuhkan kacamata hitam-nya. Lelaki yang dari tempatnya memperhatikan tidak merasa aneh dengan panggilan itu. Karena sepertinya dengan ketidak sengajaan mereka yang menjadi langgananan kedai kopi ini, setidaknya lelaki ini tahu panggilan perempuan kecil yang selalu menggunakan kalung dreamcatcher seperti koleksi adik perempuannya itu memiliki panggilan Ay dari teman-temannya.

"Eh, hei", sapa perempuan ini kembali tanpa menoleh ke arah pasangan itu, sambil merapihkan segala berkas entah apa yang terjatuh di lantai.

"Loh, katanya ke Jakarta?", tanya lelaki itu yang kemudian membantu kegiatan perempuan mungil itu.

"Balik. Ngurus skripsi dulu", jawab perempuan itu singkat masih sibuk dengan kegiatannya.

Kemudian lelaki itu mengangguk dan memberikan berkas yang juga dikumpulkannya

"Thanks, duluan yah", ujr perempuan itu yang pada akhirnya melihat mata lelaki tersebut dan kemudian melambaikan tangannya kepada wanita di sebelah lelaki itu. Perempuan yang sangat cantik dan berpenampilan lebih muda dari umurnya agaknya tidak senang dengan kehadiran singkat wanita itu membalas senyum singkat kepada perempuan mungil ini.

Entah kenapa, lelaki yang sedari tadi yang secara tidak langsung memperhatikan kegiatan mereka bertiga seperti sedang berpikir. Merasakan ketegangan ketiga orang yang tidak dikenalnya dan sedikit merasakan kehilangan perempuan mungil yang secara tidak langsung menemani sorenya.

Entah kenapa, dia berpikir bahwa ini kali terakhir perempuan ini ke kedai kopi ini. Padahal biasanya mereka selalu saja tidak sengaja bertemu di kedai kopi ini dengan kegiatannya masing-masing. Entah ketika perempuan ini bersama dengan teman perempuannya dengan kebiasaan wanita yang seru bersua, atau dengan beberapa teman lelakinya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing yang sesekali memecah keheningan mereka dengan bergurau. Baru kali ini, perempuan mungil ini terlihat begitu tegang dan dingin.

***

Sudah seminggu, lelaki ini tidak bertemu dengan perempuan mungil teman tidak langsung di kedai kopi ini. Mereka berdua biasanya akan berada di tempat duduk mereka masing-masing dengan kegiatannya. Merasa kehilangan, karena di lantai atas biasanya hanya mereka di siang hari sampai sore menjelang.

"Hai, Mas Ringga. Ini kopi langganannya", pelayan magang baru di kedai kopi ini, selalu bersikap manis kepadanya semenjak dia mulai bekerja di sini. Ringga yang cukup maklum dengan libido perempuan muda yang di mengajaknya berkomunikasi ini yang tertarik kepadanya tersenyum singkat.

"Mas, lagi nunggu orang ya mas? Kok celingukan gitu sedari tadi?", tanya pelayan itu yang dia kenal dengan nama riska yang berusaha mencari topik dengannya.

"Nggak, kok tumben sepi aja hari ini.", jawabnya yang secara tersirat menanyakan teman tidak langsung mengopinya.

"Iyah nih. Oh ya, udah seminggu mbak kuli temen Mas Bian ga kesini. Biasanya kan udah empat planjer sehari aja, buat dia jam segini", ujar Riska cekikikan mengarah ke topik kabar perempuan yang dicarinya.

Ringga yang menutupi ketertarikannya hanya mengangguk dan kembali berkutat dengan desain di Macbook Pro yang dibeli dengan jerih payahnya tiga bulan yang lalu.

"Tapi enak deh, nggak ada yang cerewet sama kopi yang aku buat. Mbak kuli cerewet banget ama kopinya kalo salah press", tambahnya yang sepertinya masih dengan topiknya untuk sekedar berlama dengannya.

Ringga yang cukup risih, berpura-pura sangat fokus dengan kegiatannya. Kemudian Riska yang sepertinya mengerti Ringga tidak ingin diganggu pamit turun ke bawah kembali.

Ngga, kesini dong! Mbak Jo maunya langsung sama lo. Katanya gue ga becus kalo nyampein ke elu
Sent by : Ido 15:45

Ringga yang membaca Whatsapp dari Ido mulai menyesap habis kopi Mandailingku-nya tidak mau rugi karena baru dipesan. Segera Ringga membereskan segala peralatan tempurku tadi, dan menuju kasir yang tiba-tiba masih saja harus bertemu Riska.

Sesampainya di tempat tujuan yang tiga puluh menit perjalanan dari kedai kopi yang didirikannya dengan sahabatnya itu. Seperti kebiasaan teman-temannya selalu suka dengan kedai kopi, dan Ringga memang tidak pernah bosan untuk menyesap kopi sebanyak apapun. Mungkin Ringga tubuh sudah kebal terhadap efek kafein.

Sesampainya di tempat duduk Ido, Mbak Jo, dan perempuan di sebelah Ido yang entah kenapa seperti dikenal baik olehnya menyalami ketiga orang yang sudah duduk santai di sana.

"Ah si mungil, ternyata", gumam Ringga.

"Ngga, kenalin nih. Adik sepupu gue si Ay. Kata Mbak Jo nggak papa bawa dia kesini kok", cerocos Ido, yang takut dimarahi di belakang ketika dia membawa pacar atau gebetan barunya ketika kita sedang meeting. Kebiasaan Ido tidak pernah berubah semenjak lulus SMA yang di-cap womanizer.

"Sepupu?", tanyaku sekilas memperhatikan ketenangan si mungil seperti biasa yang menoleh sesaat ketika menjabat tangannya. Entah kenapa sepertinya dia juga mengenalku dari sudut matanya yang memperhatikan Ringga sebentar.

" Serius, gila! Ini mah resmi di bawah pengawasan Abangnya di sini. Dia juga sekosan ama Mbak Jo kali. Makanya dia bisa bareng ke sini ama kita.", jelas Ido dengan Heboh mengelak.

"Dia bantu-bantu jadi asisten gue di kantor, Ngga. Makanya gue ajak juga ke sini. Biar nggak digodain ama si bocah gila ini.", tambah Mbak Jo, yang melirik kepada Ido. Ido yang disindir hanya menunduk malu. Ay tersenyum lucu kepada kedua orang yang jauh lebih tua dari umurnya itu.

"Jadi, Ringg. Gue mau desain event bulan depan itu pake video mapping. Semacam fashion show-nya zalora yang kemaren itu.", jelas Mbak Jo yang langsung to the point kepada kebutuhannya.

"Theme, notes, operation explanation-nya yang lain udah saya kirim ke email kantornya. Kami punya beberapa desain inti yang bisa di-arrange ulang sama Mas untuk kebutuhan video mapping. Udah saya kasih juga ke Bang Ido tadi.", tambah Ay dengan suaranya yang terdengar seperti anak-anak. Berbeda dengan cara penuturan singkat yang sangat sopan dan profesional.

"Kapan deadline untuk video kasarnya?", tanya Ringga yang sambil mengecek email yang dituturkan Ay di iPhone-ku.

"Minggu depan?", tanya Mbak jo memastikan.

"Hari sabtu gimana mbak? Masih fokus company profile Ayana yang baru mbak. Nggak apa-apa yah?"

Mbak Jo dan Ay menganggung bersamaan, kemudian Ringga melihat perempuan mungil favoritnya matanya hari ini mengetik di tablet dengan case berwarna soft pink. Sepertinya agak mencolok dengan style casual sporty-nya hari ini walau setia dengan dreamcacher andalannya.

"Masih kuliah, Ay?", tanya Ringga mengambil topik untuk berbicara dengan perempuan di depannya ketika point-point meeting selesai. Ringga agak sangsi memanggil perepuan yang diajak bicaranya dengan sebutan yang biasanya untuk sepasang kekasih. Terdengar sangat lovable sekali dia.

"Loh kok tau sih lo?", tanya Ido dan Mbak Jo berbarengan.

"Cenayang.", jawab Ringga santai yang masih berkutat dengan gadget-nya karena agak risih dengan tatapan curiganya.

"Oh, kayaknya aku sering ketemu ama Mas Ringga pas lagi ng-autis deh.", jelas Ay berpikir sambil melihat ke arahku.

"Dimana?", selidik Ido overprotective kepada adiknya. Mungkin dia agak ragu karena lingkungan pergaulanku tidak jauh-jauh darinya.

"Kedai kopi anak-anak sama gue. Lo nggak pernah ke sana sih.", jawab Ringga yang akhirnya menatap Ido yang sudah mulai dengan tatapan menghakimi.

"Gue nggak dibolehin kesana ama kalian. Katanya ganggu kinerja pegawai kan.", kilah Ido cengengesan.

"Cantik-cantik emang Bang di sana. Mau aku kasih salah satu pin mbak terbaru di sana?", pancing Ay iseng yang tahu kelakuan Abangnya yang gila wanita itu.

"Jangan deh. Ntar kamu ngadu sama Kak Irna lagi.", Ido sok cool, yang menatap harap kepada Ringga. Ringga tahu tatapan itu berarti iya bukan sebaliknya seperti yang dikatakan Ido sebelumnya.

"Emang kalian pernah ngobrol di sana? Kok tau Ay masih kuliah?", Mbak Jo masih tetap dengan topik sebelumnya menyesap Thailand Tea yang dipesannya.

"Nggak. Suara temennya teriak pas dia ngobrol sama si Ay lagi di sini. Seakan bangkit dari kubur gitu. Masa gue nggak denger sih.", jelas Ringga yang ikut-ikutan menyesap Kopi Mandailingnya seperti Ay. Mulai risih dengan pandangan aneh Ido dan Mbak Jo yang sangat aneh kepadanya.

"Temen?", tanya Ido dan Mbak Jo bersamaan ke arah Ringga dan kemudian menatap intens ke Ay yang meminta penjelasan. Ringga melihat Ay menjadi menegang seperti di kedai kopinya kemarin.

"Finally, ketemu dia kemarin. Sebelum ke tempat Bang Ido.", jelas Ay pelan menunduk seperti mengungkapkan kesalahan besar yang dipelototi kedua manusia aneh yang dipikir Ringga terlalu berlebihan.

Jeda canggung dan aneh agak lama. Seperti mereka jadi bingung dan pusing kepada info yang diungkapkan mereka tadi.

"Dia menghubungi lo lagi?", tanya Mbak Jo seperti mengintrogasi.

"Ay, dia nggak ngikutin kan?", tanya Ido jadi ikut-ikutan seperti polisi.

Ay hanya bisa terdiam lama kemudian melirikku. Aku yang seperti tidak tahu menahu urusan keluarga ini jadi hanya bisa mengalihkan diri dengan Macbook-ku agar terlihat sibuk dan menjauhi percakapan ini.

"Kata Teh Nisa, dia ke kosan lama lagi. Bian ama Rio bilang dia jadi sering ke tempatnya nyari Ay ke sana.", jelas Ay  lirih yang menatap abangnya.

Ringga yang bingung percakapan seluruh sahabatnya yang terlibat kecuali dia menjadi penasaran dengan percakapan ini. Sangat absurd dan sepertinya Ido dan Mbak Jo saling melirik dan menatapnya terus seperti merencanakan.

"Apa?" tanya Ringga akhirnya yang sangat risih dengan tatapan kedua orang yang menatap intens dari atas hingga ke bawah ini. Hanya Ay yang semakin menunduk dan mengalihkan perhatiannya seperti mengetahui arti dari tatapan  mereka berdua.

"Lo jomblo berapa lama?", tanya Mbak Jo memecah keheningan yang aneh ini.

"Lo punya apa aset apa aja?", tambah pertanyaan dari Ido yang ditatap Ay dengan sangar.

"Apaan sih? Topik dari planet mana ini?", Ringga mulai sebal dan bingung kemana arah percakapan mereka berdua yang semakin memusatkan topiknya kepadaku.

"Cukup deh...", Ay yang malah jadi sebal dengan kelakuan mereka membuatku menatapnya semakin tidak mengerti.

"Lo mau nggak pacaran ama adik gue aja? Kata emak lo lo disuruh nikah tapi nggak ada calon yang sejalan ama lo kan?", cerocos Ido keterlaluan yang dicubit adiknya menjadi menjerit kesakitan.

"Tolongin adik manis gue, Ring. Dia baik, polos lagi tapi dia kuat. Mukanya aja agak sangar gitu. Nggak ada yang jagain di sini. Gue ama Ido sibuk sama kehidupan kita masing-masing, kadang suka kecolongan." Mbak Jo sambil menarik tangan Ay yang mencubit Abangnya yang merintih terus itu.

"Udah deh, aku mending balik ke Seattle aja lah..", Ay agak teriak memecah pertengkaran aneh kami merajuk.

"Bule itu kasar dek. Nggak terima kamu yang masih konvensional gitu. Mending sama Ringga walau keliatan kurang straight.", Ido yang seenaknya dipelototi Ringga karena tidak percaya apa yang dia hina tentang dirinya.

"Nih ambil tiket nonton gue. Film bagus kok. Gravity. Pedekatean gih. Gue ijinin kok adek gue yang goblok ini jalan ama lo. Tapi jangan diapa-apain dulu. Belum muhrim, dia maunya yang sah!", seketika Ido menyodorkan dua tiket bioskop kepada tangan Ringga, kemudian mendorong adiknya bangkit. Mbak Jo juga ikut-ikutan mengusir dari tempat duduknya.

"Dah, sayang. Baik-baik yah sama si Homo kece ini.", ucap Mbak Jo riang, sambil merapihkan barang-barangku yang menatap Ay yang malu bercampur kesal dengan kelakuan orang yang terlihat menyayanginya.

"Ini ada apa sih?!", ujar Ringga kesal memegang tangan Ido yang merapihkan Macbooknya ke dalam tas Ringga.

"Tanya adik gue aja sambil pendekatan yah.", Ido memegang tangannya dan mencoba mencium pelupuk tangan Ringga yang langsung ditepisnya.

"Bye, both of you!", Teriak Ido dan Mbak Jo dari tempat duduknya yang berhasil dengan sukses mengusir kami dari tempat duduk mereka.

Ada apa ini? Kenapa baru kenal malah jadi ajang perjodohan maksa gini? Hayo loh!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar