YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 03 Maret 2013

My Kryptonyte


Ini segala penjelasan untuk semua orang yang belum puas dengan perubahan yang besar yang gue ambil sekarang. Untuk sahabatku, orang-orang yang sangat gue pedulikan, dan mungkin untuk orang yang peduli dengan gue yang gue ngga tau.
“Karena gue sangat sadar ini menyangkut hubungannya dengan Tuhan, gue nggak mau main-main.”
Aku akui, titik lemahku itu adalah cowok. Bukannya gue maniak yang ngga bisa liat cowok kece dikit, atau malah ngga bisa ngomong dan bertingkah normal depan cowok taksiran. Bukan semua itu. Tetapi gue bakal menjadi orang yang ngga punya otak kayak kalau udah menyangkut orang yang gue sayang. Itu diperparah dengan  kenyataan gue adalah orang yang bisa mengorbankan hidup gue buat yang gue cintai. Salah satu pengorbanan paling nyata adalah, jiwa gue itu nggak ada sains-nya sama sekali, gue tipe yang terlalu bebas dan berseni untuk mengambil kuliah di bidang paramedis. Gue akhirnya mengubur impian menjadi desainer dan kuliah dengan bertanggung jawab di kesehatan masyaarakat karena keinginan keluarga gue. Gue bersungguh-sungguh berkarier di bidang yang bukan jiwa gue, itu demi kecintaan gue terhadap almarhum ibu gue yang pesan terkahirnya untuk membahagiakan yang ditinggalkannya. Gue bahkan berpikir keras untuk strategi kehidupan gue ke depan yang ngga ada untuk kebahagiaan gue sendiri. Jadi bisa dibayangkan cinta bisa membuat gue jadi nggak punya diri gue sendiri.
Pada dasarnya jiwa pengorbanan gue emang kelewatan ngga pake otaknya. Untungnya keluarga gue nggak pernah nuntut gue harus berpenampilan seperti apa, karena yang gue tangkep, mereka selalu memberikan gue ruang pilihan untuk bertanggung jawab. Akhirnya gue terbentuk menjadi orang yang terlalu banyak berpikir untuk segala kehidupan gue, bahkan yang sepele. Karena dari SMP gue dipaksa untuk mendewasakan diri dengan cepat akibat permasalahan hidup, dan ditambah kehilangan seorang Ibu yang menjadi setengah bagian dari diri gue, gue terbentuk menjadi orang yang sangat tahu apa yang gue lakukan, apa yang gue kerjakan dan bahkan untuk resiko dan profit yang akan gue terima terhadap kegiatan baik-buruk yang gue lakukan.
Tetapi gue sadar, kelemahan gue adalah orang yang gue cintai, gue bisa memberikan perubahan dalam hidup gue untuk orang yang gue sayang tanpa berpikir. Seorang aisyah yang selalu melihat dua sudut oandang dan forecasting setiap pilihan hidup tidak akan pernah bisa berpikir jika itu mengenai hal yang gue cintai. Bahkan gue bisa berubah dengan senang hati tanpa gue sadar itu sebenernya bukan keinginan gue. Inilah point penting terhadap perubahan hidup gue, jilbab. Perubahan yang sacral, gue malah tanpa fikir, dan ini kesalahan terbesar dalam hidup gue sebagai pemikir.
Awalnya gue berjilbab gue hanya sadar bagaimana cara melogikakan alasan dan tindakan yang secara tepat yang harus gue lakukan sebagai pilihan gue ini. Sebagai pemikir, orang-orang yang mengenal gue akan melihat bahwa denga perubahan bertanggung jawab yang gue lakukan perubahan ini gue pikirkan dengan sangat matang. Kenyataannya selama dua tahun, gue bener-bener bertransformasi menjadi orang yang diinginkan dan tetap bertahan tanpa cela untuk tetap terus berusaha mempertahankannya. Apalagi gue berada di lingkungan yang sangat mendukung gue untuk berkerudung, mereka mendukung kebaikan yang gue lakukan, bukan yang sebenernya hal terbaik untuk diri gue. Tetapi mereka benar-benar sangat berarti dalam hidup gue, karena mereka sangat mengerti gue, dan point pentingnya kita cocok dalam kebaikan itu. Ketika masuk ke dalam fase gue harus berkembang dan dewasa karena kita punya hidup masing-masing, awalnya gue ngerasa ini bukan masalah.  Gue masuk ke dalam lingkungan yang berbeda, lingkungan yang awal sebelum gue berubah menjadi ‘aisyah yang diinginkan’.
Gue memang orang yang adaptif, tetapi gue nggak pernah melakukan sesuatu tanpa piker dan jika itu bukan yang gue inginkan, gue nggak bakal lakukan bahkan walau itu permintaan lingkungan gue. Gue merasa gue tetap menjadi diri gue dan bertanggung jawab memiliki teman-teman yang di luar orang-orang yang berpengaruh sebelumnya. Yang harus kalian pahami gue bukan orang kebawa arus, gue tau kalo gue lagi di arus itu, dan memang gue yang mau kebawa arus itu, gue yang berenang di sana.
Dengan di luar lingkungan yang mendukung ‘aisyah yang diinginkan’  akhirnya gue sadar, ternyata lepas memang ini bukan dari hati gue sendiri. Kesalahan yang gue sadari bahwa perubahan bukan karena keinginan gue, tetapi ini harapan dulu dari orang yang gue sayangi di masa lalu, dan keinginan untuk tetap bertahan menjadi aisyah yang diinginkan dari orang yang berpengaruh.
Lepas dari mereka yang baik dan masuk ke lingkungan kiri bukan gue yang di rusak, tetapi mereka yang menyadarkan gue, bahwa selama ini gue bukan menjadi diri gue sendiri. Makanya pada akhirnya gue mencoba meyakinkan diri bahwa ini pilihan hidup gue mulai saat ini, walaupun akhirnya permasalahan hati yang sudah terselesaikan membuat hati kecil gue yakin bahwa ini benar-benar di luar kemauan aisyah.
Gue nggak mau main-main lagi, gue nggak kuat bohongin Tuhan untuk menjadi baik padahal nggak mau. Karena ini urusannya dengan Tuhan, makanya gue nggak mau main-main. GGue mau belajar dari awal, mencari kebenaran dari hati sendiri tanpa campur tangan keinginan orang lain. Tuhan itu yang paling utama, gimana kita bisa mencintai Tuhan, kalau dimulai dari kebohongan.
Gue mau belajar jadi diri sendiri untuk menentukan kebahagian dan beriman kepada Allah swt.
-Aisyah 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar