YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 20 Maret 2013

The Sinetron of Mahasiswa Tingkat Akhir

Dibuat di senja tadi dengan setengah sadar dan masih dalam keadaan sakau (akibat kejadian ini):


The Sinteron of Mahasiswa Tingkat Akhir
Gue ingin berbagi pahit, alias curhat dan semoga bermanfaat. Especially nggak pake telor (itu special yak?) buat rekan seperjuangan di mahasiswa semester tenggat, awal memasuki tahun semester menjelang penantian, ataupun untuk yang ngga pernah berakhir semesternya. Semoga bermanfaat untuk kalian, dan lebih menguatkan menuju sarjana (semoga kalian bisa mikir untuk lebih semangat karena ngerasa lebih mendingan).
Buat semua orang yang punya kesempatan, tolong hargai dengan sebaik mungkin, Cuma itu pesan yang bisa gue keluarin, karena ngga semua orang punya kesempatan.
Disarankan baca ini sambil dengerin lagu homesick-Kings of Convenience biar lebih makjos!


Gue liat jam sekarang jam 6 alias enam jam gue tidur siang, kayaknya kulit gue jadi hiteman bukan karena tidur di penggorengan, tapi gara-gara sebelum tidur gue menjalani perjalanan menuju kosan dari kampus dengan mengendarai si Betty (motor tambatan hati, as you know) 20 km/jam di tengah terik matahari jam setengah dua belas. Sebenernya bisa banget gue ngebut di panas-panasan karena jalanan lumayan lengang. Bukan karena macet, tapi mata gue yang keliatan cuma air menggenang dan kayak  embun doang, Tepat, gue nangis selama perjalanan pulang sehabis ujian proposal di kampus dengan hasil diterima dengan revisi.
Gue tahu segala terguran dosen penguji gue (kita perhalus bahasa dan proses sidang karena ada kata-kata yang kurang sopan dan bikin trauma bagi yang belum UP. hehe) adalah untuk pembelajaran agar lebih detail dan spesifik untuk menjalankan penelitian. Gue juga nggak bodoh-bodoh amat, tapi emang cukup bodoh untuk kategori diuji beliau. Sebagai S3, yang kayaknya punya hobi koleksi gelar, gue yang belum sarjana sedang grogi adalah kategori pas untuk dijadikan samsak selama proses sidang. Gue anggep proses cara penyampaiannya ga usah dimasukin hati, dijadiin becandaan biar lebih rileks aja, tapi intinya adalah dia memberi pelajaran yang banyak untuk ke depannya agar lebih sempurna sesuai keinginan penguji karena dia merasa penelitian gue kurang sahih. Kenyataan kecil yang baik adalah dengan skala presentasi publik, yang nonton untuk mempermalukan gue secara mental cuma satu. Otomatis korban stress akibat proses hitam sepanjang sejarah IKM juga satu, temen sepeminatan gue yang malah jadi lemes dan jiper sendiri, di luar gue yang kayak bebek cengengesan.
Tadi pagi gue berangkat dengan semangat yakin jalanin presentasi dengan seluruh sisa-sisa pengetahuan yang ada dan katagori pasrah, karena beban pikiran gue bukan untuk skripsi aja. Dengan niat yang baik dan melihat segala rencana yang bisa dilakukan gue yakin pasti ke depannya banyak revisi, tapi nggak nyangka bakal jadi se-dahsyat dah oh lalala besar kayak gini…
Judul Skripsi gue: Penurungan Kandungan Warna dan pH  pada Limbah Pencelupan Kain dengan Menggunakan Reaktor Anaerobic Baffled Reactor dan Konsorsium Bakteri Aeromonas sp., Pseudomonas sp., Flavobacterium sp.
Hasil revisi gue secara intinya karena nggak mungkin kita bahas secara ilmiah bahasa dosen penguji gue (gue yang penyaji aja butuh penerjemah khusus sebenernya),  gue harus memperdetail penelitian gue dengan tiga kali lebih baik, penelitian dilakukan pengulangan lima kali, dan aspek harus bener-bener dibuat segalanya terukur (yes, karena pengetahuan sekarang udah canggih banget, gue harus itung bakteri satu-satu buat masuk ke penelitian gue). Gue memang berpikir ini kesempatan gue untuk belajar ilmu yang ngga pernah didapetin selama kuliah, karena lintas disiplin ilmu (kimia-biologi-teknik lingkungan) ngga pernah difokusin dari standar pembelajaran kampus gue. Tapi masalahnya adalah revisi yang harus gue lakukan dengan telaah bakteri memerlukan penelitian kecil dulu (memakan waktu paling sedikit sebulan) dan buat reactor pengolahan limbah baru yang spesifik (harga rekonstruksi bisalah beli BB Gemini baru). Kenyataannya itu baru persiapan dan revisi proposal penelitiannya aja toh?! Penelitiannya masih panjang dan memakan waktu dan harga secara rupiah yang jelas.
Kenyataan revisi yang berat dan besar (penguji gue yang amazing mengakui bahwa penelitian kayak gini harusnya buat gue ngga bisa tidur, dan dia ga habis pikir dengan keanehan gue yang masih bisa santai-pelongo untuk presentasi). Okke mana tau sih gue sampai sejauh itu untuk nerawang penelitian gue yang awalnya aja udah bikin gue jiper, ditambah kenyataan pahit yang ngga kepikir otak sekarang, seluruh penelitian gue fix bisa umrohin bapak gue dan waktu penelitiannya cukup untuk ngelahirin cucu buat dia…
TU juga dengan santai menambahkan beban, paling lambat gue revisi tanggal 22 Maret kalo mau lulus bulan agustus  dengan penelitian diitung dari pengumpulan revisi selama dua bulan (HAH?! Penelitian gue aja 2,5 bulan minimal?!) Lagian, mana bisa gue ngeringkes penelitian sebulan untuk bahan revisi jadi 2 hari, dari sekarang. Mungkin ibu TU punya kepercayaan tingkat tinggi terhadap laci meja belajar nobita yang bisa nembus waktu, oh pecinta komik doraemon mungkin (anggaplah seperti itu, gue ga bisa mikir lagi).
Yes, finally gue down , dengan kenyataan gue gabisa lulus agustus. Sebelumnya gue masih oke-oke cengengesan walaupun penelitian gue jadi ajaib begitu, tapi kalo udah dihadepin kenyataan jadi mundur wisuda, lain urusan. Pertanggung jawaban itu ada di keluarga gue, mau gue jungkir balik dan apapun caranya, gue lakuin biar bisa wisuda agustusan, tapi mungkin Tuhan berkata lain…
Gue bukannya malu untuk lulus paling terakhir di angkatan sejurusan kesehatan masyarakat kalau harus belajar menghadapi tantangan, gue juga ngga malu jadi gossip mahasiswa abadi, atau mahasiswa selebor dan sebrono kayak biasanya karena santai babai dengan ala gue ngehadepin masalah, gue cuma kepikiran satu. Adik gue pasti bakal kecewa banget kalo gue nggak lulus Agustus, itu berarti dia gabisa kuliah, karena biaya kuliah kan gue yang cari.
Okke, gue emang agak insane, mana ada fresh graduate yang bisa ngehidupin mahasiswa lagi, untuk ngehidupin dirinya sendiri adalah gonjang-ganjing perekonomian. Okke gue ga perlu jelasin novel kehidupan gue mengenai hal ini, ini sinetronnya mahasiswa tingkat akhir. Gue bukan pemimpi, gue udah ngerencanain dengan jelas apa yang harus gue lakuin, mulai dari sambil kerja di bidang gue dari bulan juni (ini juga karena keajaiban seorang ga tau apa-apa yang berusaha), dan sambil ngejalanin proyek kecil dari dosen gue, gue punya CV lebih dari sekedar fresh graduate. Gue juga terbiasa kerja rodi untuk ngehidupin diri gue sendiri sebagai hedonis akut untuk ukuran perekonomiannya yang dibawah standar kehidupan mahasiswa. Dan hasilnya plan life gue berantakan dan gue speechless, gue bener-bener ngga tahu harus rombak rencana kayak gimana, dan untuk lingkungan gue yang berbeda jauh dengan cara pemikiran gue, gue gatau harus cari solusi ke mana. Ke keluarga gue? Mana tega gue ngabarin, kalo gue butuh tambahan uang seharga backpackeran keliling eropa. Kondisi keluarga gue yang ngga pernah fit semenjak ditinggal nyokap yang jadi bank kita selama ini, jadi lebih gonjang-ganjing dengan seluruh masalah yang ada di keluarga sekarang. Lo tega jadi gue? Atau lo lagi mabok ganja yah makanya ngaco…
Solusi bukan ninggalin semua yang dijalanin, walaupun sampai sekarang belum ada titik terangnya. Walaupun gue lagi dipinggir jurang, gue masih secara sadar dan punya otak untuk ngga terjun. Gue bakal cari cara, apapun gue bakal lakuin (secara halal) buat nyelesain segala masalah gue. Dan mungkin lo harus baca blog gue yang –my kryptonite- untuk tau kenapa gue sebegitu ngoyo-nya untuk berusaha di dunia yang bahkan ga gue pernah inginkan.
Kalo kata dosen penguji gue yang secara tepat menguji hidup gue bilang, biar susah dulu buat lenggang kakung setelah ini. Pembimbing gue yang seperti solusi juga nambahin untuk tetap semangat dan gue pasti bisa.  Terimakasih untuk Sari menjadi satu-satunya yang sudah nonton dan mengerti berkomentar hidup gue udah kayak sinetron yang ngga ada celah bahagianya. Tenang sar, ini belum sinetron soalnya ngga ada kisah cinta dua sejoli yang memperkeruh keadaan kok. *senyum gigi*
Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah aja janjiin toh, bahwa Dia nggak bakal ngasih cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Gue sangat amat percaya akan kenyataan itu, kepercayaan gue tingkat tinggi sama Allah dari dulu.
Aisyah, pemeran utama sinteron mahasiswa tingkat akhir yang percaya dan berandai semoga kehidupannya bakalan kayak film The Pursuit of Happiness J

Nb: Oh jangan ditanya tentang selingan gue yang suka ngaco terhadap kisah cinta yang intrapersonal (alias kisah ga move on), ini bakal di luar bahasan otak gue. Alhamdulillah yah? HAHAHA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar